11 April 2011

KHURAFAT dan AWHAM

Tidak dapat dipungkiri bahwa di antara wasilah kebahagiaan adalah membersihkan pikiran dari serpihan-serpihan awham dan menjernihkan akal dari kotoran-kotoran khurafat. Jika akal tercemar oleh suatu khurafat, maka terbentanglah tembok tebal yang menghalangi antara akal dengan kebenaran.

Oleh karena itu, pilar pertama kali yang dibangun oleh agama yang lurus ini adalah menjernihkan akal dengan sinar tauhid sehingga ia terbebas dari belenggu prasangka dan keyakinan- keyakinan batil yang banyak menghinggapi otak manusia.

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkan mu dari jalan Allah.” (Qs. al-an'am (6): 116).

Awham adalah gambaran dari sesuatu yang dilihat, didengar dan dirasakan. Besar kecilnya gambaran tersebut tergantung mutu dan kesiapan daya pikir seseorang untuk menerima atau menolak khurafat. Jadi awham adalah gambaran yang diambil dari suatu kenyataan dengan menggunakan lensa penglihatannya yang bisa memperbesar atau memperkecil obyek, sesuai dengan kecenderungannya untuk mengagungkan sesuatu atau meremehkannya.

Sedangkan khurafat berasal dari akar kata yang artinya rusaknya akal karena lanjut usia. Dan kebetulan khurafat adalah nama seorang laki-laki yang dipengaruhi oleh jin, lalu ia bercerita sesuai dengan apa yang ia lihat, maka orang-orang tidak mempercayainya dan mereka mengatakan “Ah itu hanya cerita khurafat”.

Jadi khurafat adalah cerita-cerita atau dongeng-dongeng dan kepercayaan-keperca-yaan yang dusta (yang tidak dibenarkan).
Khurafat-khurafat yang ditangkap oleh awham-nya orang awam dan dijadikan sebagai kepercayaan tak terhitung banyaknya, di antaranya adalah:
1. Kalau ada wanita yang semua anaknya meninggal dunia mereka menyebutnya dengan “maqrunah” artinya wanita yang diganggu oleh saudara perempuannya dari bangsa jin yang bernama

Qorinah, maka supaya anaknya yang akan lahir berikutnya bisa hidup dan tidak diganggu oleh Qorinah, mereka menyarankan agar ia menyembelih ayam hitam mulus lalu dipendam di tempat di mana bayi itu dilahirkan. Sepertinya mereka mengklaim bahwa dengan begitu ia telah berdamai dengan Qorinah, dan Qorinah bersedia menjamin kehidupan sang anak. Kepercayaan ini sungguh jauh dari syari’at Islam.

2. jika kelopak mata seseorang bergerak-gerak, berdenyut, maka hal itu pertanda ia akan mendapat kebaikan, kehormatan atau rizki. Mereka tidak mengetahui bahwa sebenarnya denyutan tersebut disebabkan oleh gerakan-gerakan jasad dan bisa jadi karena perubahan darah dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan kebaikan atau kesialan seseorang.

3. Jika sebagian mereka menginginkan pernikahan, maka ia pergi ke orang “pintar....(baca: dukun) atau peramal untuk mengetahui kecocokan dan tidaknya. Yang benar adalah bahwa kecocokan dan kasih sayang itu datangnya dari Allah.

“Dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. ar-Rum:21).
Kemudian, karena adanya kemiripan dan kesesuaian di dalam watak (karakter, tabiat) dan akhlaknya. Rasulullah saw bersabda:

“Ruh itu berjenis-jenis yang dikelompokkan, maka yang saling mengenal di antaranya akan berkumpul (akur) dan yang saling mengingkari di antaranya pasti berselisih.” (HR. Al-Hasan bin Sufyan dalam musnad-nya dengan sanad hasan).

Malik bin Dinar berkata: “tidak ada dua orang yang bersepakat kecuali pada diri salah seorang di antara mereka terdapat sifat yang bersesuaian dengan sifat temannya.”
Jadi intinya apa yang dikatakan oleh para peramal dan ahli nujum adalah omong kosong, tidak boleh dipercaya, cukuplah kita mengikuti petunjuk-petunjuk syariat dalam memilih jodoh.

4. Membersihkan rumah dan menyapunya setelah salah satu keluarganya meninggalkan rumah untuk melakukan perjalanan jauh (safar) akan mendatangkan sial dan anggota keluarga yang musafir tidak akan kembali dengan selamat.
Begitu pula keyakinan mereka bahwa menyapu rumah di malam hari akan menyebabkan kemelaratan atau menyakiti bangsa jin karena jin menyebar di malam hari. juga keyakinan orang Jawa ketika masih berlangsung pesta (khitanan atau pengantin) tidak boleh menyapu lantai agar tamu-tamu yang membawa kado atau hadiah terus berdatangan dan kalau dilanggar,
maka setelah tempat itu di bersihkan tamu akan berkurang dan pendapatan pun berkurang. Semua itu adalah kepercayaan batil.

5. Jika ada seseorang dibunuh di suatu tempat, maka akan muncul hantu (gondoruwo) di malam hari dari tempat kejadian tersebut. Tidak cuma ini, mereka pun memiliki kisah-kisah yang menyeramkan yang mereka kukuhkan dengan sumpah-sumpah. Allah Maha Me-ngetahui tentang apa yang mereka ceritakan dan apa yang mereka lihat.

6. Seorang ibu yang baru melahirkan tidak boleh meninggalkan tempat persalinannya selama seminggu (jawa:sepasar) dan tidak boleh membiarkan bayinya sendirian. Kalau ia meninggalkannya seorang diri, maka bayinya akan ditukar oleh jin dengan bayi yang lain. Dan kalau dalam tahun pertama bayi itu sakit-sakit-an dan kurus, maka itu pertanda bahwa ibunya pernah membiarkan bayinya seorang diri ketika berumur tujuh hari. Begitu pula keyakinan bahwa sebelum lewat 40 hari (istilah jawa: sebelum selapan) ibu tidak boleh membawa anaknya keluar rumah (berpergian) karena hal itu akan mendatangkan bala’ bagi si bayi. Kalau maksudnya adalah mudah menyebabkan sakitnya si bayi karena masih terlalu kecil, tidak tahan udara luar, maka hal itu benar. Tetapi, kalau diyakini 40 harinya dan ketika tepat 40 harinya (selapan) diadakan kenduri, maka hal itu tidak benar dan merupakan adat yang tidak dibenarkan dalam Islam.

7. Makam atau kuburan para wali memiliki spesialisasi seperti layaknya para dokter, di antaranya ada yang membawa anaknya yang sakit ke sebagian makam dan meletakkannya di atas kuburan tersebut pada hari jum’at mulai tergelincirnya matahari hingga selesainya shalat jum’at. Mereka membiarkannya menangis, berteriak, kencing dan buang air besar di atas kuburan sang wali tersebut. Menurut keyakinan mereka, ada makam yang bisa menyembuhkan penyakit panas, ada makam yang bermanfaat untuk memenuhi hajat, mendatangkan keka-yaan serta membayar hutang. Ini semua adalah kesesatan dan awham yang tidak ada dasarnya.

8. Keyakinan orang awam bahwa amalan haji yang terpenting adalah ziarah kubur Nabi saw, mereka memandang bahwa siapa yang pergi haji dan tidak berziarah ke kubur Rasulullah saw, maka hajinya kurang atau tidak diterima. Bahkan diantara mereka ada yang beranggapan bahwa haji itu adalah ziarah ke makam Rasulullah saw. Ini adalah keliru besar. Karena ibadah haji tidak ada kaitannya dengan ziarah ke makam Rasulullah saw.

9. Termasuk awham-nya orang awam adalah menggantungkan kalung-kalung tertentu pada anak kecil dengan tujuan menolak bala’ (penyakit) dari anak tersebut. Ini adalah perbuatan orang-orang Jahiliyah di masa lalu dan diwarisi oleh sebagian orang hingga sekarang, padahal Islam telah memberantasnya dan menjadikannya termasuk bagian dari perbuatan syirik. Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa menggantungkan tamimah (jimat di leher anak) semoga Allah tidak mengabulkan keinginannya dan barangsiapa menggantungkan wada’ah (sesuatu dari laut, menyerupai rumah kerang yang menurut orang jahiliyah bisa menolak penyakit) semoga Allah tidak memberi ketenangan pada dirinya.” (HR. Ahmad Abu Ya’la dengan sanad bagus dan HR. Al-Hakim, ia berkata: sanad-nya shahih).

10. Sebagian orang jawa, terutama yang kurang tersentuh dengan dakwah Islamiyah, jika ada keluarga yang meninggal dunia, maka begitu jenazah diangkat dan diantar ke kuburan sebagian orang menebar beras yang berwarna kuning (karena diberi kunyit) dan setelah itu yang di rumah duka memecah gelas atau piring. Semuanya itu dengan tujuan agar kematian tidak menjemput keluarganya yang lain, dan seterusnya. Ini adalah jauh dari tuntunan Islam.

Kalau ada yang berkata: “sesungguhnya orang-orang awam melihat kenyataan dari semua itu dan mereka mendapatkan bencana yang tidak diinginkan jika melakukan ini atau meninggalkan itu”.

Kita katakan, memang benar bisa terjadi apa yang tidak mereka inginkan, akan tetapi sangat salah jika dihubungkan dengan sebab melakukan ini atau meninggalkan itu. Sesungguhnya terjadinya apa yang mereka khawatirkan itu karena mereka berkeyakinan dengan bid’ah dan menyalahi syari’at. Allah swt Yang Maha Bijak telah berkehendak bahwa hal-hal yang tidak kita inginkan (bala’) tidak bisa ditolak kecuali dengan melaksanakan perintah-perintah Allah yang Mulia. Ali ra pernah berkata:
“Tidak turun petaka (bala’) itu melainkan karena dosa dan tidak akan diangkat melainkan dengan taubat.”
Dan apabila permintaan mereka yang baik terkabulkan, bukan berarti perbuatan mereka itu benar. Untuk mengetahui benar dan salah-nya haruslah kembali kepada syari’at. Sedangkan terkabulnya do’a dengan cara yang salah seperti di atas itu adalah cobaan. Artinya, kalau orang-orang yang meminta kekayaan (pesugihan) kepada atau ditempat yang dikeramatkan itu tidak ada satu pun yang berhasil kaya, tentu tidak akan ada lagi orang yang melakukan hal serupa di tempat itu.

Kedua, hal itu menunjukkan bahwa Allah Maha Pemberi rizki dan Pe ngasih, karena orang yang memohon dengan cara salah atau syirik seperti itu masih dika-bulkan, apalagi jika meminta dengan cara yang benar.

Ketiga, kehinaan dunia. Karena orang kafir dan musyrik pun diberi kekayaan oleh Allah bahkan terkadang mereka lebih kaya dari pada orang mukmin. Dan ini tidak menunjukkan bahwa mereka benar dan kekasih Allah.

Keempat, memastikan hubungan antara akibat yang baik dengan sebab-sebab yang salah dan syirik tersebut adalah keliru, sebab bisa jadi karena sebab lain yang kita tidak tahu.

Begitulah jika seseorang tidak mengikuti syari’at Allah, hidupnya tidak tenang serta tidak memiliki jalan yang jelas. Ia selalu menjadi korban kebodohan, takhayyul, awham dan khurafat. Seandainya mereka mau mempelajari dan mengikuti syari’at Islam tentu lebih baik, lebih kokoh keyakinannya, berpahala dan lurus ke Surga sebagaimana firman Allah, artinya:
“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), dan kalau demikian, pasti Kami tunjukkan mereka ke jalan yang lurus.” (QS. an-Nisa’: 66-68).

Stop press.
Peringatan Awal Tahun Baru Hijriyah.
Perbuatan bid’ah yang merebak akhir abad-abad ini di pelosok Nusantara adalah peringatan awal tahun baru Hijriyah. Peringatan malam tahun baru Hijriyah ini dilaksanakan dengan acara yang berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah yang lainnya. Ada yang membuat acara pengajian diselingi dengan nyanyian qosidahan, ada yang berkumpul di tempat yang sepi nan sunyi untuk merenung terhadap amal-amal perbuatan yang telah ia lakukan selama satu tahun, ada di antara kaum muslimin berkumpul di masjid jami’ mengadakan acara muhasabah. Prosesi acara tersebut dimulai dari seusai solat ‘Isya dengan diadakan siraman rohani kemudian para peserta tidur, pada sepertiga malam me-reka bangun guna melaksanakan sholat malam. Setelah itu, seorang pemandu memberikan wejangan dan petuah hingga sebagian besar para peserta menangis.

Peringatan malam tahun baru Hijriyah merupakan perkara bid’ah dan dilarang dalam agama Islam dari dua sisi:

1. Perayaan malam tahun baru Hijriyah me-nyerupai tradisi ahli kitab.
Agama Islam hanya memiliki dua hari raya tahunan, yaitu ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha. Dari Anas bin Malik ra, ia berkata bahwa Nabi saw datang ke Madinah sedang penduduknya memiliki hari raya dimana mereka bersenang-senang di dalamnya pada masa Jahiliyah. Maka beliau bersabda:
“Aku datang kepada kalian sedang kalian bersenang-senang di dalamnya pada masa Jahiliyyah.
Sungguh Allah telah menggantikan untuk kalian dua hari raya yang lebih baik dari itu: hari raya ‘Idul Adha dan ‘Idul Fitri.” (HR. Ahmad, Abû Dâwud, Nasâ’i dan Bagowi)

2. Rasululloh saw dan para sohabatnya tidak pernah melakukannya.
Rasululloh saw diutus oleh Allah swt membawa risalah Islam hingga ketika beliau wafat, agama Islam telah sempurna tak ada sisi kekurangan sedikitpun. Tak ada satu riwayat pun, baik yang sohih ataupun do’if bahwa beliau saw merayakan peringatan awal tahun baru Hijriyah. Demikian pula dengan para sohabat, padahal mereka adalah orang yang paling dekat dengan Nabi saw, paling mengetahui dimana, kapan dan kepada siapa wahyu turun, orang yang paling bersegera dalam perbuatan baik, akan tetapi tak ada satu pun di antara mereka yang merayakan peringatan malam tahun baru Hijriyah.

Maraji’: (di cetak ulang dari: buletin An-Nur, Thn.IV/No. 180/Jum’at III/Dzulhijjah 1419 H)
1. Al-Ibda’ fi Madhoorril Ibtida’, Syaikh Ali Makhfudz
2. Kitab Tauhid, dan lain-lain.
3. Jalan yang lurus , pustaka MIM, Cimanglid Bogor...

2 komentar:

  1. Ketika Rasulullah Saw. menantang berbagai keyakinan bathil dan pemikiran rusak kaum musyrikin Mekkah dengan Islam, Beliau dan para Sahabat ra. menghadapi kesukaran dari tangan-tangan kuffar. Tapi Beliau menjalani berbagai kesulitan itu dengan keteguhan dan meneruskan pekerjaannya.

    BalasHapus
  2. ya, mari kita bersama-sama berusaha dengan sekuat tenaga kita, untuk mencurahkan tenaga, harta dan pikiran kita untuk kejayaan islam. bahkan nyawa kita sekalipun.


    syukron ya akhi atas kunjungannya....

    BalasHapus