06 April 2011

IMAN ADALAH QAWL (PERKATAAN) DAN AMAL (PERBUATAN) (bagian 2)

IMAN DARI SEGI ZHAHIR

* Perkataan lisan bagian dari iman

Perkataan lisan seperti syahadah La Ilaha Illallah-Muhammad Rasulullah, dzikir, amar ma’ruf nahi munkar dan lainnya adalah bagian dari iman. Di antara bentuk perkataan lisan ada yang sifatnya sebagai syarat wujud bagi keimanan, ada pula yang sifatnya wajib dan yang mustahab. Dua kalimat syahadat adalah syarat wujudnya iman, maka se-seorang tidak dinamakan sebagai orang yang beriman tanpa mengucapkan dua kalimat syahadat tersebut (kecuali bagi yang tidak sanggup).
Dalil-dalil dari al-Qur’an dan al-Hadits yang menunjukkan bahwa perkataan lisan termasuk bagian dari iman banyak sekali, tetapi yang paling tegas di antaranya adalah:
“Iman memiliki lebih dari 70 atau 60 cabang. Cabangnya yang paling utama adalah ucapan La Ilaha Illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan halangan dari jalan. Sedangkan malu bagian dari iman.” (HR. al-Bukhariy No.9 dan Muslim No.57).
Sedangkan dalil bahwa dua kalimat syahadah adalah syarat dari wujudnya iman adalah sabda Rasulullah saw:
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia, hingga mereka mengucapkan La Ilaha Illallah. Apabila mereka telah mengucapkannya, maka terpeliharalah dariku darah-darah dan harta-harta mereka, kecuali karena haknya.” (HR. al Bukhariy No.25 dan Muslim No.22)
Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah –Rahimahullah- berkata:
“dan kaum muslimin telah sepakat bahwa barangsiapa yang tidak mengcapkan dua kalimat syahadat, maka dia adalah orang kafir.” (al-iman, hal. 287).
Imam Ibnu Rajab –Rahimahullah- berkata:
“Dan barangsiapa meninggalkan dua kalimat syahadat, maka dia telah keluar dari Islam.” (Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 23).
Sudah pasti, dua kalimat syahadat yang diterima Allah swt adalah yang keluar atau berasal dari iman yang ada dalam hati seseorang. Sedangkan ucapan dua kalimat syahadat yang hanya keluar dari mulut begitu saja, maka tidak akan ada artinya di sisi Allah swt, walaupun disisi manusia yang mengucapkannya dianggap sebagai muslim (seorang muslim). Dengan demikian, se-seorang harus benar-benar memahami benar arti dari dua kalimat syahadat tersebut dan menerima segala konsekuensi yang terkan-dung pada keduanya.

* ‘Amal (perbuatan) anggota badan bagian dari iman

As-Salaf ash-shaleh ketika menetapkan bahwa perbuatan anggota badan adalah bagian dari iman, maka mereka mendasarkan ketetapan tersebut dari banyak dalil, diantaranya:
“Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian....” [QS. al-Baqarah (2): 143]
Imam al-Hulaymiy-Rahimahullah- berkata:
“Para ahli tafsir telah ijma’ bahwa yang dimaksud dengan ungkapan imanakum pada ayat tersebut adalah shalat kalian yang berkiblat ke arah Baitul Maqdis. Di sini terbukti bahwa shalat dinamakan dengan iman. Jika demikian halnya, maka semua amal ketaatan adalah iman, karena tidak ada bedanya antara shalat dengan amal ibadah lainnya dalam penamaannya (sebagai bagian iman).” {Imam al-Hulaymiy, al-Minhaj fi Syu’ab al-Iman, (Beirut: Dar al Fikr, 1399 H), 1/37. Lihat pula: Imam Ibnu Mundah, al-Iman (Madinah: al-Jami’ah al-Islamiyyah, 1401 H), 1/392 dan Imam al-Bayhaqiy, Syu’ab al Iman (Beirut: Dar al-Kutub, 1410 H), 1/121}
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman [sempurna imannya] ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia”. [QS. al-Anfal (8): 2-4]
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar. [QS. al-Hujurat (49): 15].
Kata mu’minun dalam ayat ini {lihat pula: QS al-Anfal (8):1-4 dan an Nur (24): 62} menunjukkan bahwa amal perbuatan yang disebutkan dalam ayat adalah amal yang termasuk kewajiban iman yang ada pada diri seorang yang beriman. Sebaliknya, seseorang yang tidak mengerjakan amal ibadah yang menjadi kewajiban iman, maka dia adalah orang yang tidak memiliki iman. (lihat: al Iman oleh Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah, hal. 14)
Demikian pula sabda Rasulullah saw kepada utusan dari kabilah ‘Abd al-Qays:
“Aku memerintahkan kalian untuk beriman kepada Allah semata.” Kemudian beliau melanjutkan: “Apakah kalian mengetahui, apakah iman kepada Allah semata?” Maka mereka menjawab: “Allah dan Rasul- Nya lebih mengetahuinya”. Lalu beliau pun bersabda: “Yaitu bersyahadat bahwa tidak ada ilah Yang hak (diibadahi) kecuali Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, memberikan 1/5 bagian dari harta rampasan perang....” [HR. al-Bukhariy dalam al-Fath 8/84 dan Muslim 1/48]
Hadits ini dengan tegas menunjukkan bahwa perkataan lisan dan perbuatan anggota badan adalah iman atau bagian dari iman. Sudah tentu perkataan dan perbuatan badan tersebut harus disertai iman yang ada dalam hati, karena apabila tidak, maka keadaan seperti ini tidaklah dapat disebut sebagai iman. {lihat: Imam Ibnu Abi al-Izz al-Hanafiy, Syarh al-‘Aqidah ath-Thahawiyya (Beirut: al-Maktab al-Islamiy, 1391 H), hal. 389.}.
Hadits lainnya, rasulullah saw bersabda:
“Bersuci (kebersihan) adalah sebagian dari iman.” (HR. Muslim 1/223)
“Tidaklah beriman seorang pezina ketika ia melakukan zina.” (HR. al Bukhariy 2475 dan Muslim 2/41)
Hadits-hadits ini pun menunjukkan bahwa perbuatan-perbuatan yang disebutkan dalam teks hadits adalah bagian dari iman. Dan masih banyak lagi dalil-dalil lain yang menunjukkan bahwa amal perbuatan anggota badan termasuk iman.

REFERENSI :
1. al-iman, Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah (w.728 H)
2. Imam al-Hulaymiy, al-Minhaj fi Syu’ab al-Iman, (Beirut: Dar al Fikr, 1399 H), 1/37.
3. Imam Ibnu Mundah, al-Iman (Madinah: al-Jami’ah al-Islamiyyah, 1401 H), 1/392
4. Imam al-Bayhaqiy, Syu’ab al Iman (Beirut: Daral-Kutub, 1410 H), 1/121
5. Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal 23
6. Nawaqidh al-Iman al-I’tiqadiyyah wa Dhawabith at Takfir ‘Inda as-Salaf, Syaykh Dr. Muhammad bin Abdillah bin ‘Aliy al-Wuhaybiy,(Riyadh: Dar al Muslim, 1416 H), 1/31-195.
7. Nawaqidh al-Iman al-Qawliyyah wa al-‘Amaliyyah, Syaykh Dr. ‘Abd al-Aziz bin Muhammad al-‘Abd al-Lathif, (Riyadh: Dar al-Wathan, 1415 H)
8. al-Iman-Arkanuhu, Haqiqatuhu, Nawaqiduhu, Syaykh Dr. Muhammad Na’im Yasin, (Mesir: Maktabah as-Sunnah, 1412 H), 221 hal.
9. al-Iman- Haqiqatuhu, Khawarimuhu, Nawaqidhuhu ‘Inda Ahl as Sunnah wa al-Jama’ah, Syaykh Abdullah bin ‘Abd al-Hamid al-Atsariy, (Riyadh: Madar al-Wathan, 1424 H), 346 hal.
10. Iman menurut Ahlussunnah wal Jama’ah, silsilah Tarbiyyah Sunniyyah, Hasmi.
11. Syarh al-‘Aqidah ath-Thahawiyya, Imam Ibnu Abi al-Izz al-Hanafiy (Beirut: al-Maktab al-Islamiy, 1391 H), hal. 389

Tidak ada komentar:

Posting Komentar