01 Agustus 2012

Fatwa Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin Mengenai Sayyid Quthub


Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin ditanya, “Sebagian pemuda membid’ahkan Syaikh Sayyid Quthub dan melarang untuk membaca kitab-kitabnya. Mereka juga mengucapkan perkataan yang sama terhadap Hasan al-Banna dan menuduh sebagian ulama sebagai Khawarij. Alasan ucapan mereka ini adalah untuk menjelaskan kesalahan kepada umat manusia. Padahal hingga sekarang, mereka ini baru menuntut ilmu. Saya mengharap jawaban dari Anda agar lenyap keraguan pada kami dan orang-orang selain kami agar perkara ini tidak menjadi kebiasaan umum!”

Beliau menjawab, “Segala puji hanya milik Alloh semata. Wa ba’du. Tidak boleh membid’ahkan dan memfasikkan kaum Muslimin berdasarkan sabda Nabi saw, “Barangsiapa yang mengatakan kepada saudaranya, ‘Hai musuh Alloh’ padahal kenyataannya tidak demikian, maka ucapan itu akan kembali kepadanya.” Siapa yang  mengkafirkan seorang muslim, maka tuduhan itu akan menimpa salah satu di antara keduanya.” Ada seseorang yang melewati orang lain yang berbuat dosa. Lalu dia mengatakan, ‘Demi Alloh! Alloh tidak akan mengampunimu’. Alloh berfirman, ‘Siapa orangnya yang bersumpah bahwa Aku tidak mengampuni Fulan? Sesungguhnya Aku mengampuninya dan Aku hapus amal perbuatanmu.’.”

Saya katakan bahwa sesungguhnya Sayyid Quthub dan Hasan al-Banna termasuk ulama kaum Muslimin dan termasuk juga pembela dakwah. Dengan perantara keduanya, Alloh swt telah menolong dan memberikan hidayah banyak orang dengan dakwah keduanya. Tidak dapat diingkari, mereka memiliki usaha yang sungguh-sungguh. Oleh karena hal itulah Syaikh Abdul Aziz bin Bazz memintakan grasi untuk Sayyid Quthub ketika ditetapkan hukuman mati atasnya. Akan tetapi, permintaan grasi itu tidak dikabulkan oleh presiden Jamal Abdun Nashir –semoga Alloh memberikan apa yang berhak dia terima-. Ketika keduanya terbunuh, masing-masing dari keduanya dinyatakan sebagai syahid karena dibunuh secara zhalim. Orang-orangpun bersaksi atas kejadian itu. Tanpa dapat diingkari, berita kejadian itu disebarkan dalam berbagai tulisan dan buku. Para ulama pun kemudian menyambut kitab-kitab keduanya. Alloh telah memberikan manfaat melalui kedua tokoh itu. Sejak lebih dari dua puluh tahun, tidak seorang pun menuduh negatif terhadap keduanya. Banyak para ulama salaf juga mengalami kejadian seperti seperti yang menimpa Sayyid Quthub dan Hasn al-Banna. Di antara mereka adalah an-Nawawi, as-Suyuthi, Ibnul Jauzi, Ibnu Athiyyah, al-Khithabi, al-Qisthalani, dan masih banyak yang lainnya.

Saya telah membaca buku yang ditulis oleh Syaikh Rabi’ al-Madkhali dalam membantah Sayyid Quthub. Saya lihat, dia (Syaikh Rabi’) membuat judul-judul yang sebenarnya tidak ada pada Sayyid Quthub. Lalu, Syaikh Bakar Abu Zaid hafizhulloh membantah buku tersebut. Demikian juga, Syaikh Rabi’ menyerang Syaikh Aburrahman (Abdulkhaliq) dan menuduh perkataannya banyak kesalahan yang menyesatkan, padahal tanpa dapat diingkari keduanya cukup lama bersahabat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar