22 Agustus 2009

Ramadhan Telah Tiba ...

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, {Qs. Al-Baqarah (2) : 183}.

Tak terasa..., kita semua telah berjumpa kembali dengan bulan yang penuh dengan keberkahan, yaitu bulan ramadhan dimana setiap amal akan dibalas dengan berlipat ganda. Bulan yang khusus diberikan untuk ummat Rasulullah saw. Bulan yang diwajibkan untuk berpuasa bagi seluruh kaum muslimin.

Sebelas bulan lamanya kita menanti bulan ini dengan kerinduan layaknya ketika akan kedatangan saudara yang sudah bertahun-tahun tak bersua, betapa besar rasa rindu kita kepada saudara kita. Apalagi dengan tamu yang satu ini, merupakan tamu spesial selain akan menghantarkan diri kita kepada derajat ketaqwaan, juga kedatangannya sangat langka dan jarang, dalam satu tahun hanya satu kali. Itu pun kalau kita panjang umur.

Keutamaan Bulan Ramadhan

Ada beberapa keutamaan yang menjadi kekhususan dan keistimewaan ramadhan, tamu yang kita nanti ini yang harus kita buru, juga di dalamnya kita harus mendulang pahala amal shalih sebanyak-banyaknya, diantaranya:

  1. Shaum adalah rukun keempat dalam Islam. Ibadah shaum merupakan salah satu sarana penting untuk mencapai taqwa. Dan salah satu sebab mendapatkan ampunan dosa-dosa, pelipatgandaan kebaikan dan pengangkatan derajat.
  2. Pada bulan ramadhan diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi ummat manusia dan berisi keterangan-keterangan tentang petunjuk dan pembeda antara yang haq dan yang bathil. Membaca ayat-ayat al Qur’an adalah ibadah yang paling utama di bulan ramadhan. Bersungguh-sungguhlah untuk mengkhatamkan al Qur’an di bulan ramadhan nanti. Rasulullah saw bersabda, “Bacalah al Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi pembacanya”. (HR. Muslim dari Abu Umamah).
  3. Pada bulan ini disunahkan shalat tarawih, yakni shalat malam pada bulan ramadhan, untuk mengikuti jejak Nabi dan para sahabat dan Khulafaur Rasyidin. Nabi bersabda, “Barangsiapa yang mendirikan shalat malam ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Mutafaqun ‘alaihi).
  4. Meningkatkan kualitas shaum kita. Karena didalamnya terkandung pahala yang besar. Nabi bersabda, “Barangsiapa yang shaum satu hari di jalan Allah Azza wa Jalla maka Allah menjauhkan wajahnya dari neraka sejak hari tersebut selama tujuh puluh tahun.” (HR. Bukhari dan Muslim).
  5. Memperbanyak sedekah di bulan ramadhan. Diriwayatkan dalam shahih al Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas ra, ia berkata, “Nabi adalah orang yang amat dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan ramadhan Rasulullah ketika ditemui Jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang menghembus.” Diriwayatkan dalam hadits Zaid bin Khalid ra dari Nabi, beliau pernah bersabda, “Barangsiapa memberi makan kepada orang yang bershaum maka baginya seperti pahala orang bershaum itu tanpa mengurangi sedikitpun dari pahalanya.” (HR. Ahmad dan At -Tirmidzi).
  6. Bertaubat dan beristighfar meminta ampun dari segala dosa-dosa. Bulan ramadhan merupakan bulan dimana Allah memberikan keutamaan dan mengabulkan semua do’a. Nabi bersabda, “Ada tiga macam orang yang tidak ditolak do’anya diantaranya, orang yang bershaum hingga berbuka.” (HR. Ahmad, At Tirmidzi, Nasa’i , Ibnu Majah).
  7. Bertahan untuk melakukan i’tikaf di-dalam masjid. I’tikaf adalah sunnah yang selalu dilakukan Rasulullah saw pada sepuluh hari terakhir bulan ramadhan. Bahkan pada kurun terakhir ketika beliau wafat, Rasulullah melakukan I’tikaf selama 20 hari. I’tikaf adalah tinggal di dalam masjid untuk melakukan ibadah, meninggalkan urusan dunia dan kesibukannya.
  8. Terdapat pada bulan ini Lailatul Qadar (malam mulia), yaitu malam yang lebih baik daripada seribu bulan atau sama dengan 83 tahun 4 bulan. Malam dimana pintu-pintu langit dibukakan, do’a dikabulkan, dan segala taqdir yang terjadi pada tahun tersebut ditetapkan. Nabi bersabda, “Barang siapa mendirikan shalat pada Lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”(Muttafaqun ‘Alaihi).
  9. Dibelenggunya syaitan dan ditutupnya pintu-pintu neraka serta dibukanya pintu-pintu surga. Rasulullah pernah bersabda, “Jika bulan Ramadhan tiba maka pintu-pintu surga dibuka, sedangkan pintu-pintu neraka ditutup, dan syaitan pun dibelenggu.” [HR. Bukhari].

Ramadhan dan Gaya Hidup Islami


Ramadhan sebagai bulan penuh berkahpun tidak luput dari kepentingan duniawi ini. Jangan heran jika masyarakat kita akan selalu antusias untuk menyambut bulan mulia ini, namun apa yang menjadi orientasinya? Tidak pelak lagi keuntungan duniawi yang selalu berada di pelupuk mata mereka.

Sebenarnya sah-sah saja ketika ummat Islam ingin mendapatkan keuntungan dari bulan mulia ini, namun yang menjadi permasalahan adalah kenapa mereka justru menjadikan momen mulia ini sebagai sarana untuk menyebarkan gaya hidup yang bukan dari ajaran Islam.

Contoh yang paling ringan adalah betapa pusingnya kaum bapak ketika ramadhan semakin dekat, yang ada dalam benak mereka adalah bisa nggak ya beli kebutuhan selama ramadhan dan persiapan hari raya? Hal ini karena ketika ramadhan tiba tentu anggaran rumah tangga dengan sendirinya akan meningkat. Hitung-hitung dengan shoum akan lebih menghemat justru malah sebaliknya anggaran rumah tangga membengkak dua kali lipat.

Sementara kaum ibu lebih sibuk lagi, kalau pada hari-hari biasa menu makan bisa dengan lauk sederhana maka di ramadhan menu yang disediakan harus “wah” minimal ada kolak, daging, es campur dan lain-lain.

Ditengah kesibukan itu masih ada juga sebagian masyarat yang memanfaatkan bulan mulia ini menambah penghasilan keluarga dengan berdagang musiman, atau ketika menjelang lebaran yang seharusnya disibukkan dengan berbagai ketaatan justru mendapat order pekerjaan yang menumpuk, pesanan kue lebaran, baju, paket lebaran dan lain-lain.

Lalu dimana sebenarnya letak keberkahan ramadhan ini? Apakah hanya keuntungan duniawi?

Pada dasarnya gaya hidup seorang muslim tidaklah berbeda, baik di dalam maupun di luar ramadhan. Kita harus tetap berpegang teguh pada gaya hidup Islami, tidak ada pemborosan, kesibukan yang melalaikan akhirat, makan yang berlebihan dan aktifitas yang membawa pada membuang-buang watu, uang dan nikmat yang telah diberikan Allah Ta`ala.

Perbedaan yang seharusnya menjadi nilai plus adalah bahwa pada bulan mubarok ini kita harus lebih bisa memanfaatkan momen ramadhan untuk beribadah kepada-Nya. Terutama di akhir-akhir bulan ini. Sehingga kesibukan-kesibukan dunia tidak sampai melalaikan kita dari mengisi bulan yang penuh berkah ini.

Sekali lagi jangan sampai gaya hidup kita berubah dan disesuaikan dengan zaman.

Referensi :
  • Risalah Romadhon, Abd. bin Jarulloh Ibrohim al Jarulloh, Al-Sofwa.
  • Buletin Al-Huda.


Stop Press ...........


Ramadhan dan Budaya Kita

Setiap kali bertemu Ramadhan, ada yang khas dinegeri kita ini: kenaikan harga bahan pokok sehari-hari. Tidak kita pungkiri, kenaikan BBM menjadi salah satu pemicunya. Namun, Ramadhan-Ramadhan sebelumnya pun, budaya kenaikan harga bahan pokok ini juga tetap menjadi menu langganan di negeri kita, dengan atau tanpa kenaikan BBM.

Ada hal menarik dari sini, ketika Ramadhan diidentikkan dengan aneka kebutuhan makanan yang meningkat. Bangsa ini ternyata memang cukup konsumerisme (suka membeli barang yang tidak diperlukan) dan konsumtif terhadap urusan perut. Ketika sebagian orang ramai-ramai mempersiapkan Ramadhan dengan bekal ilmu dan latihan implementasi amalan-amalan terbaik, sebagian masyarakat kita masih melihat Ramadhan sebagai sebuah ritual puasa (baca: pengorbanan) yang harus dibayar dengan kenikmatan-kenikmatan sesudahnya sebagai kompensasi berpuasa. Salah satunya yakni memanjakan diri dengan hidangan berbuka dan sahur yang spesial, berbeda dari menu makan hari-hari biasanya. Maka tidak heran jika kemudian kenaikan harga bahan pokok ini pun menjadi fokus perhatian masyarakat kita saat ini.

Tidak kita pungkiri makin banyak masyarakat miskin dinegeri ini. Puasa Ramadhan pun sudah keluar dari esensinya sebagai latihan tepa selira (tenggang rasa) terhadap saudara-saudara kita yang dhuafa. Jika melihat perilaku konsumtif yang ternyata menempatkan Ramadhan sebagai sebuah momen memindahkan waktu makan. Tidak mengherankan memang jika kemudian masyarakat kita menganggap puasa sebagai sebuah kondisi untuk berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian. Berlapar-lapar dahulu, berkenyang-kenyang kemudian. Lalu, latihan tepa selira mana yang sedang kita lakukan?

Semoga setiap bertemunya kita dengan Ramadhan makin terus memantapkan diri kita tentang makna esensial Ramadhan, bukan sekadar ritual berpuasa, tarawih, berzakat, berbelanja, berlebaran, setelah itu kembali pada rutinitas semula tanpa hikmah atau kesan apapun yang tertinggal.

Semoga kita dijauhkan dari ketumpulan batin dan ketebalan hijab dengan Dzat pemberi Rahmat dibulan yang mulia ini. Amin. *****

(Buletin Nurul Haq No. NH / 07 / 002 / September 2007 M / Ramadhan 1428 H).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar