31 Oktober 2013

Ketika Kuburan Dikeramatkan


“Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kubur-kubur sebagai masjid… Ingatlah janganlah kalian menjadikan kubur sebagai masjid, karena sesungguhnya aku melarang kalian dari hal ini.”
(HR. Muslim, an-Nasai, Ibnu Hibban, dan Abu 'Awanah dari Jundub bin Junadah).

Dalam fakta sejarah, paganisme merupakan agama sesat pertama yang dianut oleh manusia, hal itu bermula saat mereka mengkultuskan para tokoh yang sudah wafat. Mereka mengangkat orang-orang sholeh untuk dijadikan panutan, yang kemudian dicintai, diikuti dan dihormati. Karena jauhnya mereka dari tuntunan yang benar, penghormatan dan kecintaan yang sangat tersebut tidak terbatas pada saat mereka hidup saja, tetapi terus berlanjut ketika para tokoh itu meninggal. Melalui hembusan setan, mereka membuat lukisan yang pada awalnya hanya berfungsi sebagai pengenang jasa-jasa yang telah mereka lakukan, namun beberapa abad selanjutnya, setelah generasi demi generasi berganti, setan mulai menggiring mereka untuk membuat patung para tokoh tersebut dan membisikkan kepada generasi baru tersebut bahwa, “Dahulu, nenek moyang kalian menyembah patung-patung ini”. Maka lahirlah agama paganisme itu… hingga saat ini.

Kini, seiring bertambah majunya teknologi, pengetahuan dan eksplorasi akal yang sedemikian rupa, bukannya semakin hilang agama paganis, namun justu semakin bertambah dan bahkan semakin banyak bentuk dan coraknya.

Hal itu bisa kita lihat dari salah satu fenomena, dimana sebagian ummat manusia sudah tidak membuat patung sesembahan lagi, mereka mengganti bentuknya dengan mengeramatkan (memuliakan) makam orang-orang tertentu yang mereka anggap wali atau orang suci lainnya. Tragisnya, hal itu banyak menimpa mereka yang mengaku beragama Islam. Mereka menjadikan kuburan-kuburan itu sebagai tempat beribadah, seperti sholat, berdo'a, bernadzar, shodaqoh, i'tikaf, thowaf dan lain sebagainya. Bahkan seorang kuburiy -sebutan untuk penyembah kuburan- berkeyakinan bahwa mengunjungi makam wali sama dengan mendapatkan kenikmatan dunia dan akhirat. Selain itu mereka juga menyamakan makam wali dengan Baitullah al-Haram (Ka’bah). Ini semua jelas bertentangan dengan syari'at Islam dan kalau kita lihat hadits-hadits Rosululloh Shallallahu Alaihi wa Sallam, dapat diketahui bahwa beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam sangat keras sikapnya terhadap orang-orang yang beribadah kepada Alloh di sisi kuburan orang sholeh.

Kalau beribadah kepada Alloh Subhanahu wa Ta'ala di sisi kubur saja, beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersikap keras, tentu akan lebih keras lagi jika sampai beribadah kepada penghuni kubur tersebut. Diantara hadits yang menyebutkan hal tersebut adalah sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shohih Bukhori dan Shohih Muslim, dari 'Aisyah Radhiyallahu Anha, bahwa Ummu Salamah Radhiyallahu Anha (salah seorang istri Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam) menceritakan kepada Rosululloh Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang gereja dengan berbagai lukisan di dalamnya yang dilihatnya di negeri Habasyah (Ethiopia). Maka Rosululloh Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

“Mereka itu, apabila ada orang yang sholih -atau hamba yang sholih- meninggal di antara mereka- mereka bangun di atas kuburnya sebuah tempat ibadah, dan mereka buat di dalam tempat itu gambar-gambar mereka; mereka itulah makhluk yang paling buruk di sisi Alloh.”

Para ulama telah bersepakat bahwa shalat di masyahid (masjid yang berada di atas kubur) tidaklah diperintahkan sama sekali baik dengan perintah wajib atau pun sunnah.

Barangsiapa meyakini bahwa ibadah di sisi kuburan lebih memiliki keutamaan dari tempat lainnya atau lebih utama, maka dia telah menyelisihi jama’ah kaum muslimin dan telah menyelisihi agama ini. Bahkan yang diyakini oleh umat ini bahwa sholat di masjid yang dibangun di atas kubur adalah sesuatu yang terlarang dengan larangan haram. Larangan ini terjadi karena di sana terdapat tasyabbuh (penyerupaan) dengan orang-orang musyrik dan inilah asal penyembahan berhala.

Ini adalah awal petaka yang menimpa ummat-ummat terdahulu. Dan hal inilah yang sekarang menimpa ummat ini, serta yang paling urgen bahwa ini adalah suatu bencana yang tidak boleh didiamkan terutama oleh para da’i yang tahu betul akan kerusakan ummat ini. Tentunya kita sebagai ummat terbaik yang memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari yang munkar, seyogyanya tidak berpangku tangan dan acuh tak acuh terhadap realita ummat ini. Ingatlah firman Alloh Subhanahu wa Ta'ala dalam surat al-Anfal ayat 25:

"Dan peliharalah diri kalian dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zholim saja di antara kalian, dan ketahuilah bahwa Alloh amat keras siksaan-Nya". (Hasan Abu Zaid). ( www.hasmi.org )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar