30 Oktober 2013

Air Salamun dalam "Rebo Wekasan"


 “Astagfirullah wa natubu ilaihi”. Kejahilan dan hawa nafsu sungguh telah mendominasi akal sehat sebagian penduduk Negeri Pertiwi ini. Sehingga kesyirikan dan kesalahan dalam ta’abbudi seorang hamba telah berada di jurang kenistaan jahannam.

Ritual “Rebo Wekasan”, telah menjadi ritual besar yang dikemas dalam bentuk kirab budaya dan diakhiri dengan pembagian air salamun (Air Keselamatan). Sehingga ada warga desa menggelar acara tersebut pada Selasa sore, Pertanda bahwa hari itu adalah hari “Rabu” terakhir di bulan Safar dengan membagi-bagikan (memperebutkan) air Salamun tersebut.

Kirab berlangsung sejauh 2 kilometer dari lapangan dan berakhir di Masjid. Kirab itu mengusung aneka potensi Desa, terutama hasil pertanian dan kerajinan bambu. (ini kata mereka)

Parahnya, mereka berpandangan bahwa ritual seperti ini merupakan pelestarian tradisi syiar Islam yang dilakukan seorang ulama bernama Ndoro Ali pada 1925. Dalam syiarnya, Ndoro Ali membagi-bagikan air salamun yang bersumber dari sumur kuno Masjid Al Makmur, Kudus

Konon, sumur itu muncul setelah Sunan Kudus menancapkan tongkat di sekitar masjid. Hal itu terjadi bersamaan ketika Aryo Penangsang membangun Masjid Al Makmur.

“Disebut air salamun karena air itu diyakini bertuah dan menjadi sarana menangkal bala atau ancaman marabahaya. Salamun berasal dari kata ‘salam’ yang berarti ‘selamat’,” jelas Kepala Seksi Promosi Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus Mutrikah. 

Hal ini menjadi suatu bentuk kesyirikan, sebab mereka mengkramatkan (‘memuliakan’) air tersebut dan meyakini Bahwa air Salamun tersebut dapat menjadi sarana menangkal bala atau ancaman marabahaya. (Admin-HASMI/kom).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar