10 November 2011

Dosa Seputar Mayit dan Kuburan

Saudaraku,…bertaqwalah kepada Alloh dimana saja kita berada sebagaimana hadits Rosululloh :

Telah bercerita kepada kami ‘Abdullah telah bercerita kepadaku ayahku. Telah bercerita kepada kami Isma’il dari Laits dari Habib bin Abu Tsabit dari Maimun bin Abu Syabib dari Mu’adz bin Jabal berkata; Wahai Rosululloh! Berilah aku wasiat. Rosululloh bersabda;

“Bertakwalah kepada Alloh dimana saja kamu berada.”

Mu’adz berkata; Tambahilah. Rosululloh bersabda;

“Sertakan kebaikan pada keburukan niscaya akan menghapusnya. (hendaklah menjauhi keburukan tersebut kemudian berbuatlah amal sholeh -red: inilah maksudnya) Mu’adz berkata; Tambahilah. Rosululloh bersabda;

“Perlakukan orang dengan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad)

Hadits di atas menerangkan bahwa dosa-dosa kecil dapat dihapus dengan mengerjakan amalan yang baik dan benar. Dosa yang sudah berjangkit di kalangan masyarakat ini sangatlah banyak dan juga mereka menganggapnya itu hal biasa dan lumrah.

Hal yang demikian tidak bisa ditinggalkan karena gunung yang begitu besar terdiri dari kerikil-kerikil kecil, jika dosa kecil ditumpuk maka akan menjadi besar seperti gunung.

Banyak sekali amalan yang dapat menjerumuskan ke dalam dosa dengan tidak terasa, tidak sengaja atau kita pernah menyaksikan atau melakukannya. Hal-hal berikut yang tergolong Dosa seputar Mayit dan Kuburan Di antaranya adalah:


1. Meratapi Jenazah

Kematian pasti akan terjadi pada setiap makhluk yang bernyawa, namun yang ditinggal mati apakah bisa bersabar ataukah tidak? Salah satu kemungkinan besar yang dilakukan oleh manusia, jika ditinggal mati oleh orang yang dicintainya adalah meratapi jenazah. Misalnya dengan menangis sejadi-jadinya, berteriak-teriak sekeras-kerasnya, memukuli muka sendiri, menyobek/ mengoyak-ngoyak baju, menggunduli rambut, menjambak-jambak atau memotongnya. Semua perbuatan tersebut menunjukkan ketidakrelaan terhadap taqdir, disamping menunjukkan tidak sabar terhadap musibah.

Nabi Muhammad mengecam orang yang melakukan ratapan berlebihan kepada mayit.

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Zubaid Al Yamiy dari Ibrahim dari Masruq dari ‘Abdullah berkata; Nabi telah bersabda:

“Bukan dari golongan kami siapa yang menampar-nampar pipi, merobek-robek baju dan menyeru dengan seruan jahiliyyah (meratap).” (HR. al-Bukhori).

Sedih dan berduka cita atas kepergian orang yang dicintai adalah wajar namun tidak boleh berlebihan sebagaimana hal yang di atas tadi. Bersabar dan menerima terhadap musibah adalah lebih baik dan lebih mulia karena semuanya terjadi atas kehendak Alloh swt. Dan ini semua telah digariskan olehNya sehingga manusia tinggal menjalani apa yang sudah menjadi ketentuannya.


2. Menginjak dan duduk di atas kuburan

Ketika mengiring jenazah atau berziarah kubur, sebagian orang ada yang tidak memperhatikan jalan yang mesti dilaluinya, sehingga disana-sini menginjak-injak kuburan dengan tanpa rasa hormat sedikitpun kepada yang sudah meninggal.

Dan yang menunggu pemakaman jenazah dengan seenaknya duduk di atas kuburan, pemandangan seperti ini sering terlihat di masyarakat, padahal Rosululloh mengancam akan hal yang semacam itu.

Abu Hurairah berkata, Rosululloh bersabda:

sungguh seseorang dari kalian duduk di atas bara api sehingga terbakar bajunya hingga tembus ke kulitnya, hal itu lebih baik baginya daripada duduk di atas kuburan” (HR. Muslim 2/667).


3. Mencari berkah dikuburan

Kepercayaan bahwa para wali yang telah meninggal dunia dapat memenuhi hajat, serta membebaskan manusia dari berbagai kesulitan adalah syirik. Karena kepercayaan ini, mereka lalu meminta pertolongan dan bantuan kepada para wali yang telah meninggal dunia. Padahal mereka meminta tolong kepada Alloh dalam setiap sholatnya namun dalam prakteknya mereka meminta realisasinya kepada selain Alloh .

Firman Alloh dalam al-Qur’an:

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” {QS. Al-Fatihah (1) : 5}

Termasuk dalam kategori menyembah kuburan adalah memohon kepada orang-orang yang telah meninggal, baik para nabi, orang-orang sholeh, atau lainnya untuk mendapatkan syafa’at atau melepaskan diri dari berbagai kesukaran hidup.

Sebagian mereka, bahkan membiasakan dan mentradisikan menyebut nama syaikh atau wali tertentu, baik dalam keadaan berdiri maupun duduk atau ketika ditimpa musibah atau kesukaran hidup.

Diantaranya ada yang menyeru: “Wahai Muhammad,” ada lagi yang menyebut “Wahai Ali” Yang lainnya menyebut: “Wahai Syaikh” atau “Wahai Syaikh Abdul Qodir Jaelani”, Kemudian ada yang menyebut: “”Wahai Syadzali”. Dan masih banyak lagi sebutan lainnya.

Alloh berfirman:

“Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Alloh itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.” {QS. Al A’raaf (7) : 194}.

Sebagian penyembah kuburan ada yang berthawaf (mengelilingi) kuburan tersebut, mencium setiap sudutnya, ada juga yang mencium pintu gerbang kuburan dan melumuri wajahnya dengan tanah kuburan dan debu dari kuburan. Sebagian ada yang bersujud ketika memandangnya, berdiri di depannya dengan penuh khusyu, merendahkan diri dan menghinakan diri seraya mengajukan permintaan dan memohon hajat.

Mencari berkah di kuburan tidaklah asing bagi sebagian orang lebih-lebih di masa sekarang ini dimana kebutuhan yang penting harus dipenuhi namun jalan untuk mengaisnya sa-ngatlah sulit kemudian mereka memakai jalan pintas yaitu dengan bersemedi dan tafakur di kuburan dengan harapan akan dibukakan jalan baginya. Kemudian ada yang meminta sembuh dari sakit, mendapatkan keturunan, digampangkan urusannya dan tak jarang di antara mereka yang menyeru: “Ya Sayyidi aku datang kepadamu dari negeri yang jauh maka janganlah engkau kecewakan aku”. Dan ada juga yang mengatakan “Ya Sayyidi aku ini adalah hamba yang hina dina dan engkau hamba yang mulia maka sampaikanlah hajat kepada Tuhanmu”. (Catatan: perkataan ini merupakan perkataan syirik yang menyebabkan pelakunya keluar dari Islam).

Alloh berfirman:

“dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Alloh yang tiada dapat memperkenankan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka? {QS. Al Ahqaaf (46) : 5}

Nabi Muhammad bersabda:

“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan menyembah sesembahan selain Alloh niscaya akan masuk ke dalam Neraka”. (HR. al-Bukhori, 8/176).

Sebagian mereka, mencukur rambutnya di pekuburan dan ada yang membawa buku yang berjudul Manasikul Hajjil Masyahid (tata cara Beribadah haji di Kuburan Keramat), sebelum mereka menunaikan ibadah haji ditanah suci Mekkah, mereka terlebih dahulu menunaikan haji di Tanah Pekuburan Keramat.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa fitnah kuburan dan mayit telah menjadi tradisi dan adat bagi masyarakat kita sekarang ini.

Dan oleh sebab itu, kami mengajak saudara-saudara kaum muslimin untuk bersama-sama meninggalkaan hal tersebut dengan penuh keikhlasan kepada Alloh . Dan kita meminta kepada Alloh semoga yang masih melakukan hal itu dapat di berikan petunjuk oleh Alloh dan dibukakan pintu hatinya untuk menerima kebenaran.

(Oleh : Tedy Haryono).

Referensi :

  1. Khutbah Jum'at Setahun, dilengkapi dengan:
  2. Digital Quran ver3.2 http://www.geocities.com/sonysugema2000/
  3. ENSIKLOPEDI HADITS (Kitab 9 Imam Hadist) Lidwa Pusaka i-Software - www.lidwapusaka.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar