30 Juni 2013

Kewajiban Berinfaq




Alloh swt berfirman:

“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS. al-Hadiid: 7)

Alloh swt memerintahkan kepada manusia agar beriman kepada-Nya dan Rasul-Nya secara sempurna, terus-menerus, berkesinambungan dan teguh di atas keimanan itu. Kemudian Alloh swt mendorong manusia untuk membelanjakan hartanya,
 
“Yang Alloh telah menjadikan kalian menguasainya” Maksudnya, harta yang kalian miliki adalah pinjaman dari Alloh swt karena asal mulanya harta itu berada di tangan orang-orang sebelum kalian, lalu beralih ke tangan kalian.

    Alloh memberi petunjuk kepada kalian agar menggunakan harta yang dititipkan kepada kalian itu demi mentaati-Nya. Jika mereka mau mengerjakan hal itu maka manfaatnya akan kembali kepada mereka juga, dan jika tidak, maka Dia akan menghisab dan menghukum mereka karena meninggalkan kewajiban-kewajibannya berkaitan dengan harta.

    Firman Alloh swt “Yang Alloh telah menjadikan kalian menguasainya” di dalam ayat ini terdapat isyarat yang menunjukkan bahwa kelak harta itu pada akhirnya akan kalian tinggalkan juga. Dan beruntunglah ahli waris kalian yang menggunakannya untuk ketaatan kepada Alloh. Dengan demikian, ahli waris kalian lebih berbahagia daripada kalian dengan harta yang telah diberikan oleh Alloh swt kepada mereka. Tetapi bila ahli waris kalian menggunakan harta yang diwarisi dari kalian untuk tujuan maksiat berarti kalian telah membantunya untuk berbuat dosa dan maksiat.

     Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdulloh asy-Syikhkhir, ia berkata, “Ketika aku menghadap Rasululloh saw beliau bersabda:

﴿الْهَا كُمُ التَّكَاثُرُ﴾ ، يَقُوْلٌ ابْنُ آدَمَ: مَالِيْ مَالِيْ! وَهَلْ لَكَ مِنْ مَالِكَ إِلَّامَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْلَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْتَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ؟

(Alloh swt berfirman): “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian.’ Anak Adam berkata, ‘Hartaku, hartaku,’ Bagian dari hartamu tidak lain hanyalah apa yang kamu makan lalu kamu habiskan, atau apa yang kalian pakai lalu kamu menjadikannya usang, atau apa yang kamu shadaqahkan, maka kamu meraih pahalanya.” (HR. Ahmad, sanadnya shahih di atas syarat Muslim)

 Saudaraku kaum muslimin,...
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
”Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.” (QS.Al-Baqarah: 254)

KEMULIAAN ROMADHON


Abu Hurairoh ra menuturkan bahwa Nabi saw selalu memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda:

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, Alloh mewajibkan puasa atas kalian di dalamnya. Pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka Jahim ditutup, setan-setan dibelenggu dan di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang diharamkan mendapatkan kebaikan malam itu, maka ia telah diharamkan.” (HR. Ahmad, dishahihkan al-Ar-na’uth)
Bulan puasa dengan segenap keberkahannya telah datang. Sungguh mulia bulan yang datang ini. Nabi saw selalu memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan kedatangan bulan Romadhon.
Sebagian ulama berkata, “Hadits ini menjadi landasan hukum atas perintah mengucapkan selamat datang terhadap bulan Romadhon.” Bagaimana mungkin seorang Mukmin tidak bergembira dengan dibukanya pintu-pintu surga?
Bagaimana seorang pendosa tidak bergembira dengan ditutupnya pintu-pintu neraka? Bagaimana seorang yang berakal tidak bergembira dengan dibelenggunya setan-setan? Waktu seperti apakah yang menyamai bulan Romadhon? Dahulu, sebagian generasi salaf selalu berdoa untuk kedatangan bulan Ramadhan.
Kedatangan bulan Romadhon dan berpuasa di dalam-nya adalah nikmat Alloh swt yang agung bagi orang-orang yang dikehendaki-Nya. Hal ini ditegaskan oleh sebuah hadits Rosululloh saw dari Abu Hurairoh ra yang menuturkan, “Ada dua orang laki-laki dari negeri Qudha’ah yang masuk Islam di hadapan Nabi saw. Laki-laki yang pertama gugur sebagai syahid dalam peperangan bersama Rosululloh saw, sedang yang kedua wafat setahun sesudahnya. Thalhah bin ‘Ubaidillah (salah seorang sahabat yang utama) berkata, ‘Aku bermimpi melihat surga, lalu aku melihat orang yang mati syahid itu didahului oleh temannya ketika masuk surga, aku heran karenanya. Keesokan harinya aku sampaikan hal itu kepada Rosululloh saw. Beliau bersabda, ‘Apakah yang kalian herani dari mimpi tersebut? Bukankah ia sempat berpuasa Ra-madhan setelah kematian temannya, ia pun telah shalat enam ribu rakaat atau sekian-sekian rakaat shalat sunnah?’. Para sahabat menjawab, ‘Ya, benar.’ Maka Rosululloh saw bersabda, ‘Sesungguhnya perbedaan tingkatan antara keduanya lebih jauh dari jarak antara langit dan bumi’.” (HR. Ahmad, dishahihkan al-Albani)
Alloh swt telah mengistimewakan bulan Romadhon secara spesifik dengan menurunkan Kitab-Nya yang teragung untuk umat temulia. Dengan keistimewaan ini, Alloh swt mengkhususkan bulan Romadhon dengan firman-Nya:

“(Beberapa hari yang ditentukan itu adalah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)....” (QS. al-Baqarah [2]: 185)
Itulah al-Qur’an yang agung, dengannya Alloh swt mengeluarkan umat manusia dari kegelapan menuju cahaya, turun pada bulan yang agung ini. Maka, adakah keutamaan yang melebihi keutamaan ini?
Dalam bulan Ramadhan, terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ini adalah keberkahan, rahmat dan pemuliaan Alloh swt kepada umat ini. Kita adalah umat yang dirahmati.
Usia umat ini berkisar antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun (sedikit sekali yang melampaui batas ini), Alloh swt pun mengaruniakan keberkahan pada amal mereka, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya; membaca satu huruf al-Qur’an diganjar dengan sepuluh kebaikan; satu malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan lebih baik dari seribu bulan.
Sudahkan kita menerungkan makna ini? Lebih baik dari seribu bulan! Demi Alloh swt, tidak ada orang yang terhalang mendapatkan kebaikan malam tersebut kecuali orang yang aniaya dan terpedaya. Qiyamullail (shalat malam) pada malam itu menghapus dosa yang telah lalu. Sungguh nikmat tiada terkira atas kaum Mukminin seluruhnya.