12 Februari 2012

Say no to Valentine Day's

Alloh berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggung-jawabnya.” {Qs. Al-Isro’ (17) : 36}
 
Lihat pula Qs. Al-Maidah (5) : 51
 
Valentine’s Day, seluruhnya tidak lain bersumber dari paganisme orang musyrik, penyembah berhala dan penghormatan pada pastor. Bahkan tak ada kaitannya dengan “kasih sayang”, lalu kenapa kita masih juga menyambut hari Valentine? Adakah ia merupakan hari yang istimewa? Adat? Atau hanya ikut-ikutan semata tanpa tahu asal muasalnya?.
 
Rosululloh telah melarang untuk mengikuti tatacara peribadatan selain Islam:
 
“Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. at-Tirmidzi).
 
Bila dalam merayakannya bermaksud untuk mengenang kembali Valentine maka tidak disangsikan lagi bahwa ia telah kafir. Adapun bila ia tidak bermaksud demikian maka ia telah melakukan suatu kemungkaran yang besar. Ibnul Qoyyim al-Jauziyah berkata: 

“Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi (ucapan) selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya…” dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalaupun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Alloh. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya disisi Alloh dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khomer atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid’ah, atau kekufuran maka ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Alloh.”
 
Maka adalah wajib bagi setiap orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat untuk melaksanakan wala’ dan baro’ (loyalitas kepada muslimin dan berlepas diri dari golongan kafir) yang merupakan dasar aqidah yang dipegang oleh para salaf sholih. Yaitu mencintai orang-orang mu’min dan membenci dan menyelisihi (membedakan diri dengan) orang-orang kafir dalam ibadah dan perilaku.

Jahiliyah


Jahiliyah berasal dari kata Al Jahlu (الجهل ) yang berarti bodoh. Ketika menerangkan arti bahasa dari Al Jahlu, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan :

“Al Jahlu adalah tidak berilmu atau tidak mengikuti ilmu. Barangsiapa yang tidak mengetahui Al Haq (kebenaran), maka orang itu Jahil Basith (sederhana), sedangkan jika berkeyakinan menyalahi Al Haq (kebenaran) maka orang itu Jahil Murakkab (bertingkat). Demikian pula orang yang beramal menyalahi Al Haq (kebenaran), maka diapun jahil, sekalipun dia mengetahui bahwa dirinya menyalahi kebenaran.” (Baca : Kitab “Iqtidha Ash Shirath Al Mustaqim Mukhalifah Ashhab Al Jahim, Tahqiq : Asy Syeikh Muhammad Hamid Al Faqi, Hal : 77-78)

Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan mengatakan bahwa Jahiliyah adalah :

“Kondisi yang dialami bangsa Arab sebelum Islam berupa kejahilan kepada Allah, Rasul-rasulNya, Syari`at Ad Dien, berbangga-bangga dengan keturunan, takabbur, sombong dan lain-lain yang dikaitkan dengan kejahilan yang berarti tidak berilmu atau tidak mengikuti ilmu”.
(Baca ” Kitab At Tauhid”, Hal : 23) 

Dari perkataan beliau Jahiliyah dapat dikaitkan dari 2 sisi, yaitu :
     
    1.  Sisi Masa / zaman yaitu kondisi bangsa Arab pra Islam, tentu saja, jika demikian masa ini telah berakhir dengan diutusnya Rasulullah Saw. Akan tetapi, perlu difahami bahwa masa atau zaman mengandung karakteristik atau peristiwa yang terkandung di dalamnya yang bisa menjadi ukuran bagi zaman atau masa yang lain. Untuk itu sisi Jahiliyah yang kedua adalah :
    2.  Sisi Karakteristik (Sifat-sifat atau peristiwa yang terjadi di dalamnya). Sisi ini tidak akan berakhir dengan berakhirnya bangsa Arab atau setelah diutusnya Rasulullah Saw, karena dia bisa terjadi dan dapat dimiliki oleh zaman manapun, bisa terjadi dan dapat dimiliki oleh bangsa manapun atau pribadi manapun, termasuk siapa saja di antara kita yang mengaku muslim.

                Sisi karakteristik inilah yang dijelaskan oleh Muhammad Quthb tentang arti Jahiliyah dalam Al Qur`an Al Karim. Beliau mengungkapkan “Di dalam Al Qur`an Al Karim lafadz Jahiliyah memiliki makna khusus atau secara hakiki memiliki 2 makna terbatas yaitu :
    1.      Jahil terhadap hakekat dan karakteristik Uluhiyah, dan
    2.   Bersikap hidup tanpa memiliki ikatan Rabbani atau dengan kata lain tidak mengikuti ajaran yang diturunkan oleh Allah.”

    Kata-kata Dr. Shalih Fauzan “kejahilan kepada Allah…” hingga akhirnya merupakan gambaran karakteristik jahiliyah yang tidak dapat lepas dari 2 unsur pokok yang disebutkan oleh Muhammad Quthb tersebut. Terlebih lagi beliau memberikan sejumlah bukti dalam Al Qur`an dan As Sunnah yang menjelaskan hal itu, di antaranya beliau mengutip firman Allah Swt :

    Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang telah menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata:”Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah ilah (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa ilah (berhala)”. Musa menjawab “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang jahil (terhadap sifat-sifat Ilah)”. (Qs. 6: 103)

    Jahil yang dimaksud dalam ayat ini adalah tidak mengetahui hakekat Uluhiyyah. Karena, seandainya mereka mengetahui bahwa Allah Ta`ala:

    • Tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata. (QS. 6: 103)
    • Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia (QS.42:11)
    • Pencipta segala sesuatu (QS. 6: 102) dan bukan makhluk
    • serta sifatNya tidak serupa dengan sifat makhlukNya, niscaya mereka tidak meminta hal tersebut yang menandakan kejahilan mereka terhadap hakekat Uluhiyyah.

    وَطَآئِفَةُُ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَل لَّنَا مِنَ اْلأَمْرِ مِن شَىْءٍ

    “Sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata:”Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini”. (Qs. 3:154)

    Yang dicela oleh Allah terhadap kelompok tersebut adalah aqidah tertentu (tashawwur mu`ayyan) yang berkaitan dengan hakekat uluhiyyah. Yaitu aqidah mereka bahwa ada pihak lain yang ikut campurtangan bersama Allah dalam segala urusan serta kejahilan (ketidaktahuan) mereka bahwa yang menyempurnakan perbuatan hanyalah kehendak dan aturan Allah Yang Esa.

    قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلاَّ تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ الْجَاهِلِينَ

    Yusuf berkata: "Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang jahil”. (QS. 12:33)

    Makna ayat ini berkaitan dengan sikap hidup yang tidak diikat oleh ikatan Rabbani yaitu cenderung untuk (memenuhi keinginan) wanita, melanggar perintah Allah dan terjerumus dalam urusan yang diharamkan Allah. Itulah sesuatu yang oleh Yusuf `Alaihis Salam dikhawatirkan terjatuh ke dalamnya serta dimintakan perlindungannya kepada Allah.

    وَلاَتَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ اْلأُوْلَى

    “Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu”. (QS. 33:33)

    Makna ayat inipun berkaitan dengan sikap hidup yang tidak diikat oleh ikatan Rabbani dan mengikuti aturan yang tidak diturunkan oleh Allah seperti wajibnya menjaga diri dan tidak menampakkan perhiasan wanita kecuali terhadap para mahramnya.

    أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

    Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS. 5:50) (Baca : Kitab “Ru`yah Islamiyyah Lii Ahwal Al `Alam Al Mu`ashir, Hal : 15-17)

    Dua karaktersitik inilah yang dapat saja terjadi pada perorangan atau suatu negara. Seorang yang tidak mengenal hakekat Uluhiyyah yang benar atau bersikap hidup tanpa ikatan Rabbani tentu disebut memiliki sifat jahiliyyah, walaupun dia mengaku Islam. Begitu pula sebuah negara yang system hukum, norma dan tata nilainya bertentangan dengan hakekat Uluhiyyah atau tidak terikat dengan ikatan Rabbani dapat digolongkan sebagai negara jahiliyyah, walaupun mayoritas penduduknya atau pemimpinnya kaum muslimin