24 Januari 2010

Pluralisme, Liberalisme dan Sekularisme Agama

A. Pengertian Pluralisme, Liberalisme dan Sekularisme Agama

Pluralisme Agama adalah : suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relative; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.
Namun jika kita bertanya pada mereka (orang-orang kafir, pluralisme): Jika anda menganggap bahwa semua agama benar, Maukah anda mempelajari Agama Islam? Mereka berdusta. Dalam lisan, mereka mengatakan bahwa semua agama sama, namun di dalam hati mereka, agama merekalah yang benar.

Pluralitas Agama adalah sebuah kenyataan bahwa di Negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan {Menghilangkan prinsip Wala dan Baro (Cinta dan benci karena Alloh swt) dalam kehidupan seorang muslim}.

Liberalisme Agama adalah : memahami nash-nash agama (al-Qur’an dan as-Sunnah) dengan menggunakan akal pikiran yang bebas (mengagungkan akal); dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata.

Sekularisme Agama adalah : memisahkan urusan dunia dari agama (memisahkan Islam dari Negara, dari kehidupan sosial), agama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan sesama manusia diatur hanya dengan berdasarkan kesepakatan sosial.

B. Pernyataan MUI Tentang Ketentuan Hukum Pluralisme, Liberalisme dan Sekularisme Agama

  1. Pluralisme, Liberalisme dan Sekularisme Agama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran Islam.
  2. Umat Islam haram mengikuti paham Pluralisme, Liberalisme dan Sekularisme Agama.
  3. Dalam masalah aqidah dan ibadah, umat Islam wajib bersikap eksklusif, dalam arti haram mencampur-adukkan aqidah dan ibadah umat Islam dengan aqidah dan ibadah pemeluk agama lain.
  4. Bagi masyarakat muslim yang tinggal bersama pemeluk agama lain (pluralitas agama), dalam masalah sosial yang tidak berkaitan dengan aqidah dan Ibadah, umat Islam bersikap Inklusif, dalam arti tetap melakukan pergaulan sosial dengan pemeluk agama lain sepanjang tidak saling merugikan.

C. Dasar Hukum MUI Dalam Menetapkan Ketentuan Hukum Pluralisme, Liberalisme dan Sekularisme Agama

Al-Qur’an

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi.” {Qs. Ali Imron (3) : 85}.

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam…” {Qs. Ali Imron (3): 19}.

“Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku.” {Qs. Al-Kafirun (109) : 6}.

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Alloh dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata”. {Qs. Al-Ahzab (33) : 36}.

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.” {Qs. Al-Mumtahanah (60) : 8-9}.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Alloh kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” {Qs. Al-Qoshosh (28) : 77}.

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” {Qs. Al-An’am (6) : 116}.

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” {Qs. Al-Mu’minun (23) : 71}.


Hadits Nabi saw
  1. Imam Muslim ra ( w. 262 H ) dalam kitabnya Shahih Muslim, Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw : bahwasanya beliau pernah bersabda : “Demi Dzat Yang menguasai jiwa Muhammad, tidak ada seorangpun baik Yahudi maupun Nashrani yang mendengar tentang diriku dari Umat Islam ini, kemudian ia mati dan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa, kecuali ia akan menjadi penghuni neraka.” (HR. Muslim).
  2. Nabi saw mengirimkan surat-surat Dakwah kepada orang-orang kafir (non Muslim), antara lain Kaisar Heraklius, Raja Romawi yang beragama Nashrani, al-Najasyi raja Abesenia yang beragama Nasrani dan Kisra Persia yang beragama Majusi, di mana Nabi saw mengajak mereka untuk masuk Islam. (Riwayat Ibn Sa’d dalam al-Thabaqat al-Kubra dan Imam al-Bukhari dalam Shahih Bukhari).
  3. Nabi saw melakukan pergaulan sosial secara baik dengan komunitas Yahudi yang tinggal di Khaibar dan Nasrani yang tinggal di Najran; bahkan salah seorang mertua Nabi yang bernama Huyay bin Ahthab adalah tokoh Yahudi Bani Quradzah (Sayyid bani Quraizah). (HR. al-Bukhari dan Muslim).
(Disadur dari Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia No. : 7 / MUNAS VII / MUI / 11 / 2005)

Referensi : Fatwa MUI, antara yang menerima & yang menghina, Pustaka Umat, Jakarta.

30 November 2009

Waktu Yang Berlalu Takkan Kembali

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” {Qs. Al-Hasyr: (59) :18}.

Bila Waktu berlalu...

Pernahkah kita menghitung waktu yang kita habiskan sampai detik ini? Jika belum pernah, mari kita coba;

Pertama, kalikan umurmu sekarang dengan dua belas bulan lalu kalikan dengan tiga puluh hari, lalu kalikan dengan 24 jam, lalu kalikan dengan 60 menit, dan terakhir kalikan dengan 60 detik. Hasilnya...?

Banyak juga ya! Jika umur kita 20 tahun saja, ini berarti 20 x 12 x 30 x 24 x 60 x 60 = 622.080.000 detik.

Subhanallah, betapa banyak waktu yang kita miliki bukan. Benar-benar nikmat yang harus kita syukuri. Terlebih lagi jika waktu kita digunakan dengan sebaik-baiknya.

Namun, sungguh menyesal dan meruginya kita, jika harus membagi waktu yang super banyak itu dengan kesibukan pribadi kita, keegoisan kita, kekhilafan dan kelalaian kita, tanpa mengisinya dengan hal-hal positif, apalagi bernilai ibadah. Penyesalan itu datang belakangan karena waktu yang hilang takkan berganti dan takkan kembali.

Waktu takkan kembali...

Beribu pengandaian dan harapan yang tersirat di benak kita takkan mungkin kembali, semua telah berlalu. Sering kali manusia tertipu olehnya. Tertipu untuk berleha-leha di dunia, menikmati waktu muda tanpa ingat masa tua, menghabiskan kesempatan di waktu luang tanpa sadar akan datangnya waktu sempit, menghamburkan kekayaan tanpa mengingat bagaimana jika miskin, menyia-nyiakan waktu sehat dan lupa suatu saat kita bisa jatuh sakit. Terlena dengan hidup dan terlupa akan ajal yang siap menjemput.

Demikianlah manusia yang sering tertipu, sebagaimana Rasulullah saw bersabda:
“Ada dua nikmat dimana manusia banyak tertipu didalamnya, kesehatan dan waktu luang”. (HR. Bukhari).

Waktu Laksana Pedang.

Setiap detik kesempatan kita hilang karena jalannya waktu, tanpa kenal kompromi walau hanya sedetik tak pernah terjadi di dunia ini satu detik yang lalu kembali.

Tak heran bila waktu dikatakan laksana pedang. Bila kita tidak menggunakan dengan baik maka kita terhunus karenanya. Betapa dzalimnya kita pada diri sendiri jika tidak memanfaatkannya untuk kebaikan (ibadah). Jadi masih sanggupkah kita menyia-nyiakan waktu?

Ingatlah terbatas!!! Terbatas, seperti kesempatan hidup kita di dunia. Itu sebabnya, kita harus senantiasa mengingat tugas kita sebagai hamba Allah di dunia ini untuk senantiasa beribadah kepadaNya. Allah swt berfirman, yang artinya:
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya menyembahKu” {Qs. Adz Zariat (51) : 56}.

Jangan sia-siakan waktumu!!!

An optimist is one who sees an opportunity in every difficulty,
A pessimist is one who sees a difficulty in every opportunity.
{Orang yang optimis adalah orang yang melihat peluang dalam setiap kesulitan,
Orang yang pesimis adalah orang yang melihat satu kesulitan dalam setiap kesempatan}.

Waktu, bagi seorang muslim harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Yusuf Qordhowi dalam kitabnya Al Waktu fi Hayaatil Muslim berkata: “Bila orang melewati sehari dalam hidupnya tanpa ada suatu hak yang ia tunaikan atau suatu fardlu yang ia lakukan dan kemuliaan yang ia wariskan, atau pujian yang ia hasilkan atau kebaikan yang ia tanamkan atau ilmu yang ia dapatkan, maka sungguh-sungguh ia telah menganiaya dirinya sendiri.”

Bila kita menyia-nyiakan waktu setidaknya menimbulkan tiga akibat: kekosongan akal, kekosongan hati, dan kekosongan jiwa. Jika demikian adanya sungguh gersang kehidupan kita. Padahal, kehidupan didunia ini hanya sesaat dan amat semu. Sungguh menyesal diri kita karena takkan ada kesempatan ulang untuk berbuat baik atau bertaubat, bila kita sudah meninggalkan dunia ini. Allah swt berfirman, yang artinya:
“Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zalim permintaan uzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi” {Qs. Ar-Ruum (30) : 57}.

Bagaimana Mengefisienkan Waktu?

Waktu yang kita miliki bisa jadi amat luang dan lapang, namun adakalanya kita tidak bisa memanfaatkan untuk hal-hal yang benar dan baik. Jaslem M. Badr dalam bukunya Efesiensi Waktu dalam Islam memberikan alternatif cara mengefisienkan waktu;

Pertama, pergerakan (kegiatan) terarah. Artinya kita harus pastikan bahwa tujuan dari setiap gerak kita tidak boleh lepas dari jalan Allah.

Kedua, bergaul dengan masyarakat, tanpa bergaul aktifitas kita tidaklah berarti. Jadikan masyarakat sebagai lahan dakwah kita.

Ketiga, suka membantu orang lain. Sabda Rasulullah saw:
“Barangsiapa yang melapangkan suatu kesulitan dunia bagi seorang mukmin, maka Allah pasti akan melapangkan baginya suatu kesulitan di hari kiamat” (HR. Muslim).

Keempat, menjalani lima perkara yang disukai sahabat, yakni selalu bergabung dengan orang-orang shalih yang aktif, mengikuti sunnah Rasul saw, memakmurkan masjid, membaca Al-Qur’an dan jihad fi Sabilillah.

Kelima, membaca. Imam Ahmad berkata: “Kebutuhan manusia terhadap pengetahuan itu porsinya lebih besar daripada kebutuhan makan dan minum. Kebutuhan makan dan minum dalam sehari bisa dihitung, tapi mencari ilmu adalah sebanyak tarikan nafas kita. Ilmu akan menerangi jalan hidup kita”.

Jadi jangan sampai kita menyia-nyiakan waktu. Sebab ia akan berlalu tanpa ganti dan takkan kembali.


Renungan
Sedesah nafas yang takkan kembali ....................

“Tahun itu ibarat sebatang pohon sedangkan bulan-bulan di dalamnya adalah cabang-cabangnya. Adapun hari-hari ibarat ranting-rantingnya. Nafas-nafas itu ibarat buahnya. Barangsiapa yang sedesah nafasnya dalam ketaatan maka buah dari pohonnya adalah manis. Sebaliknya jika desahan nafas itu dalam kemaksiatan maka buahnya adalah pahit. Dan hari panennya adalah hari pertemuan denganNya. Dan hari panen itulah yang akan merasakan manis dan pahitnya”. (Ibnu Qoyyim al Jauziyah).

Saudaraku..., sesungguhnya Mizan waktu yang dihisab di sisi Allah adalah detik-detik yang kita lalui di dunia ini dan semua itu adalah penggalan-penggalan kisah yang akan bersaksi di sisi Ilahi. Hari-hari kita adalah durasi untuk kita memotret diri dalam dunia yang singkat ini. Semua nanti akan ditampakkan dari hari-hari yang kita lalui tanpa tercecer walau sedikit.

Hari itu saudaraku, mata-mata terbelalak dan mulut membisu seribu bahasa, wajah manis-pun bermuram durja dan bibir bergincu tak lagi bicara. Adapun tangan dan kaki menjadi saksi atas apa yang kita lalui.

Hari itu semua berangan untuk kembali ke bumi walau sedetik. Ingin rasanya mereka kembali mengukir detik-detik mereka penuh pahala. Namun semua itu tinggal harapan. Bahkan mereka ada yang berandai jika menjadi debu saja ketika di dunia.

Saudaraku..., selalu bertanya, bertanya dan bertanyalah pada dirimu akan masa mudamu, untuk apa ia digunakan? Begitu juga dengan waktu sehat, kaya, lapang dan hidupmu, di jalan apakah ia dihabiskan? Jika tak ada sedetik pun di jalan Allah, maka gembirakanlah dirimu dengan azab yang pedih dan dahsyatnya penyesalan di batas masa yang tak terhingga.

Saudaraku..., sesungguhnya kehidupan sejati kita bukan banyaknya umur kita, melainkan detik-detik kita yang kita leburkan di jalan Allah. Apakah artinya hidup seribu tahun jika tak sedikitpun beribadah di jalan Allah? Begitu juga harta sejati kita, bukan harta yang bermilyaran dan bertumpuk di bank-bank, melainkan berapa banyak yang kita kucurkan di jalan Allah. Lantas mengapa masih ada keluh kesah dan rasa bimbang dengan waktu dan harta yang kita infakkan di jalan Allah?

Saudaraku..., sedetik waktu yang terus berlalu, sepenggal hari yang selalu berganti, sedenyut jantung dan nadi yang selalu berlomba tiada henti, akankah kita sia-siakan?

Ingatlah saudaraku, sedesah nafas ini takkan kembali, ya, takkan kembali selama lamanya.

Buletin Nurul Haq
(No. NH / 032 / 08 / 18 April 2008 M / 11 Rabi’ul Akhir 1429 H)

Referensi :

  1. Waktu fi Hayaatil Muslim, Yusuf Qordowi.
  2. Efesiensi Waktu dalam Islam, Jaslem M. Badr.
  3. Buletin Al-Fityah, Edisi: 002 Th I Juni 2006 M- Jumadil Ula 1427 H.
  4. Majalah UMMATie, edisi 05/ th.I /Desember 2007/ Dzulqo’dah 1428.